Dunia kecilku

November 3, 2009

imel Widya Wiri 7 h

Filed under: puisiku

puisi

Mon, February 23, 2009 2:35:40 PM
From:
Widya Wiri [Chat now]

Add to Contacts
To: aniarlina_kholid@yahoo.com
puisi Indra Tjahyadi

MEMAJANG LANGIT

Kupajang langit
Malaikat-malaikat merintih
Dalam tidur yang sepi
Bulan terbakar
Dan sajak-sajak lahir dari kebencian
Matahari. Aku tarik segenap luka
Dan bau busuk orang mati
Nafasku jadi buruk
Dan dipenuhi niat jahat yang suci
Aku ubah bumi jadi puing-puing
Bersekutu dengan iblis
Atau bayang-bayang hantu di malam hari
Aku tapaki jurang-jurang kegelapan
Yang ditorehkan burung-burung hering
Menatap kekuasaan dengan mata
Yang bengis. Kubiarkan
Lumpur-lumpur melompat dan banjir
Yak terbendung lagi. Menyeret mobil-mobil
Dengan darah dan seratus keringat musim:
O betapa khidmat kelicikan mengubah hari
Jadi sungai-sungai sampah yang pesing
Ada bangkai-bangkai tikus
Dan para pengemis yang memberi makan
Kucing-kucing kurus. Seolah membuka-buka
Mimpi, meneteki tanah dengan seribu
Kebosanan yang keji
Ketika gelap sedemikian gaib
Dan bunyi hujan menjelma pesta
Dari seribu kematian yang picik
Aku berpegang teguh pada angin, mencari-cari
Maut pada segenap ranjang yang sedih
Dan dalam segenap hasrat yang paling jijik
Berlingkaran seperti seekor cacing
Menghisap puting-puting anyir
Dari pelacur-pelacur tua yang bunting
1998.

PADA MATAMU YANG BENING

Pada matamu yang bening
Tahajud daun-daun
Kuinsyafi dalam luka dan batu-batu
Bunyi-bunyi guruh meluap dan membutakan diamku
Bau-bau hujan seperti birahi-birahi musim
Yang menggeram dengan kapak dan sekalian palu
Dan ketika kilatan-kilatan petir memecut
Membakar langit dan pohon-pohon Randu
Seperti radang kesunyian yang melesatkan bara
Dan tombak-tombak unggun
Ribuan anggur kureguk
Lewat geliat gelubat kabut yang memeriahkan sedu
Seperti peronda-peronda kota
Yang selalu bertanggung jawab
Pada setiap hening dan lelehan-lelehan salju
Dari setiap sakit yang tak tersmbuhkan
Atau kudeta-kudeta panjang yang bergerak lambat
Seperti kristal nafasmu. Tapi belati-belati rindu
Adalah genangan-genangan darah yang mengombak pada bibirmu
Memerah seperti gincu, meledak seperti rastusan peluru
Akar-akar membasah, tapi waktu seperti kemaluan
Bumi yang rapuh. Kini, aku pun mencapai
Kebeningan kelabu. Dan jejak-jejak kaktus merancak
Menusuk kakiku, kubiarkan setiap pesta angin
Mengajariku bercakap dengan ratusan bangkai atau patung
Patung batu, mengajakku setubuh di samping ambalmu
Mengikhlaskan seratus pembunuhan seperti permainan marak
Dari cahaya dan kepompong-kepompong embun:
Tempat di mana sajak-sajak bermula dan para pejalan
Menyaksikan bendera-bendera dikibarkan seperti gelombang rambutmu
1998.

puisi Novitasari 7i

Filed under: puisiku

puisi

Mon, February 23, 2009 2:40:41 PM
From:
Snovita Sari [Chat now]

Add to Contacts
To: aniarlina_kholid@yahoo.com
jka km mencintai seseorang,
cintai dy dengan setuluz hti
jgn sampai dy meneteskan air mata,,
bwtlah dy tersenyum bhagia
karna hnya km yang bisa bwt dy tersenyum&bahagia..!!!

imel puisi dari Dani Santiko Aji

Filed under: catatan pinggir

tugas

Tue, March 3, 2009 1:30:40 PM
From:
Dani Santiko Aji [Chat now]

View Card
To: aniarlina_kholid@yahoo.com
Cc: danisantiko@yahoo.com
Maaf saya tidak dapat menemukan judul yang tepat
untuk untaian kalimat yang hendak saya tulis
hari-hariku dipenuhi oleh suara-suara tak bergetar seperti kemarin ….
getaran itu semakin lama semakin sayup… perlahan
getaran itu melemah dan berhenti
seperti denyut nadi anak-anak ingusan
tak terdengar mereka oleh gesekan angin

Jika demokrasi adalah judul terindah bagi suatu bangsa
maka bangsaku hendak menggunakannya pula
mereka mengorbankan jiwa dengan sukarela atau dengan pesan
mereka sama-sama berdarah dan bahkan hilang oleh dahaga tanah
aliran sari-sari makanan kebebasan tak pernah sampai
tersebar ke seluruh tubuh
berhenti mereka di antara lembaran-lembaran kertas berstempel

Maaf jika hidupku adalah demokrasi
nampaknya ia tak punya judul lagi
kadang saya merasa sangat berharga dan ingin hidup
seperti jiwa Chairil Anwar
namun kadang saya menemukan ketidakbernilaian
yang mendorongku untuk mengakhiri hidup
the object of my affection telah mati
bersama judul tulisan-tulisan tentang demokrasi yang semakin kabur

email pantunnya Alfi Meidina 7 i

Filed under: puisiku

pesan

Wed, March 4, 2009 2:55:32 PM
From:
Alfiani maydinia [Chat now]

Add to Contacts
To: aniarlina_kholid@yahoo.com
ya bu alfi jg terima kasih kembali !!!!!!!!!!!!!

From: ani arlina Kholid
To: Alfiani maydinia
Sent: Tuesday, February 10, 2009 11:03:15 AM
Subject: jawaban

— On Mon, 2/9/09, Alfiani maydinia wrote:

From: Alfiani maydinia
Subject: pantun
To: aniarlina_kholid@yahoo.com
Date: Monday, February 9, 2009, 7:08 AM

asam pauh dari seberang
tubuhnya dekat tepi tebat
badan jauh dirantau orang
jika sakit siapa mengobati

Makasih pantunnya Alfi yang manis!

puisi Ira Setiani 7i 2008-2009

Filed under: catatan pinggir

Trs: haloo………….ibu!

Tue, March 10, 2009 9:18:14 PM
From:
IRA S [Chat now]

Add to Contacts
To: aniarlina_kholid@yahoo.com

— Pada Sel, 10/3/09, IRA S menulis:

Dari: IRA S
Topik: haloo………….ibu!
Kepada: aniarlina_kholid@yahoo.com
Tanggal: Selasa, 10 Maret, 2009, 2:13 PM

CINTA KELUARGAKU

Keluarga………………….
Aku sayang padamu………
Siang dan malam kita bertemu
Dan diiringi oleh kegembiraan

Tetapi janganlah lupa
Hidup dan matipun
Tiada keluarga akanlah sengsara
Karena keluargalah yang menjungjung
Hidup kita selama-lamanya……..

Pantun ini untuk nasihat
Dan terutama untuk keluargaku yg tercinta……….!

IBU………………..
Ini ira bu ……….!
Ibu do’a in ira bu soalnya ira takut gak bisa besok ulangan,mudah-mudahan ira bisa lebih dari kkm/mencapai kkm. AMIN…………!!!!!!!

Bu, ira cuma bisa ngasih puisi segini.maaf ya bu gak buanyak!udah dulu ya bu insyaalloh kapan-kapan ira kirim-kirim lagi dech!

Buuuuuuuuuuu
Makasih,
Wasalam

puisi karya Titin Suhartini 71 2008-2009

Filed under: puisiku

Re: puisi

Wed, March 18, 2009 2:32:07 PM
From:
Titin Suhartini [Chat now]

Add to Contacts
To: aniarlina_kholid@yahoo.com
Guru
Guru begitu besar pengabdian mu
pada negara, tak kenal lelah
engkau membimbing kami
setulus malaikat

Jasamu sungguh berarti
dalam tugas yg mulia
hanya Doa yg ku persembahkan
sbagai tanda trima kasih ku
karya titin

Bu ini puisi karangan titin suhartini 7i

argumentasi penlepas

Filed under: catatan pinggir

Senyuman
Negeri sedih kini bertambah sedih. Bencana alam kini kembali terjadi di negeri berpenduduk 200 juta lebih ini. Sebuah tanggul yang menahan aliran air jebol dan menghantam beberapa rumah penduduk. Puluhan jiwa meninggal dunia. Ada yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut adalah tsunami kecil-kecilan seperti di Negara tetangga yaitu Indonesia.
Hebatnya, peristiwa itu terjadi pada saat negeri sedih mempersiapkan pesta demokrasi, yaitu ajang untuk memilih para pejabat negara yang akan mengurusi negeri sedih empat tahun ke depan. Bayangkan, betapa para calon pejabat itu dengan giat langsung mendatangi tempat kejadian agar dilihat penduduk yang ditimpa musibah dan dipilih pada saat pemilihan berlangsung dengan alasan sederhana, calon itu adalah yang telah menolongku ketika ditimpa bencana.
Ya, di negeri mimpi cara untuk merayu para masyarakat agar dirinya dipilih untuk menjadi pejabat negeri ini memang beragam. Mulai dari cara yang telah diceritakan diatas, yaitu dengan membantu masyarakat miskin, baik terang-terangan dengan terjun kelapangan, mendirikan stand-stand partai, memberikan bantuan sembako, pakaian, dan kata-kata bijak, sampai pada cara basi yaitu dengan memasang foto-foto mereka di tepi-tepi jalan, di tiang listrik, dipagar rumah tetangga, dan dimanapun yang memungkinkan, akan dipasang. Sampai-sampai, ada yang memasang di sepanjang kabel arus listrik. Perjuangan yang benar-benar hebat.
Pertanyaannya, apakah mereka kelak akan dipilih? Belum tentu, karena orang seperti itu jumlahnya bukan satu dua saja. Sebagaimana penerimaan calon pegawai negeri di negara tetangga Indonesia, pemilihan pejabat di negeri sedih jumlahnya berkali-kali lipat dari yang akan dipilih dan mendapatkan tempat. Jika yang terpilih hanya seratus orang, yang mendaftar untuk menjadi pejabat negeri sedih bisa mencapai lima ribu orang. Luar biasa bukan? Tapi itulah yang disebut pesta demokrasi, pesta kebebasan untuk menjabat, pesta ya benar-benar pesta.
Karena itulah, semua calon pejabat harus kreatif dalam memperkenalkan dirinya kepada masyarakat. Karena mereka tahu bahwa masyarakat telah termakan isu jangan membeli kucing didalam karung, mereka, yang merasa diibaratkan kucing tersebut, keluar untuk memperkenalkan dirinya. Tidak berdiam diri didalam karung sampai ada pembeli yang mau membelinya. Tidak. Mereka keluar memperkenalkan diri.
Ada yang door to door, seperti para sales sebuah barang elektronik yang sering mengganggu ketenangan orang lain. Saat jam-jam istirahat, biasanya setelah zuhur, para calon pejabat itu dengan ramah tamahnya, sembari diiringi dengan senyuman manis dan sapaan hangat, mereka mengetuk satu rumah dan perbindah kerumah yang lain. Alasan mereka juga klasik, bersilaturrahmi mempererat persaudaraan. Diakhir silaturrahmi, mereka menyisipkan satu atau beberapa stiker tempelan yang bergambarkan wajah mereka yang sedang senyum. “Mohon Do’a dan Dukungannya” begitulah kira-kira isi kata-kata yang tertera di stiker itu.
Respon masyarakatpun bermacam-macam. Ada masyarakat yang senangnya bukan main ketika didatangi oleh para calon pejabat tersebut. Mereka mengatakan bahwa calon pejabat yang mendatangi rumah warga negara sedih ini adalah calon pejabat yang bekerja keras, lain daripada yang lainnya. Mereka adalah calon-calon pejabat yang menyemangati warga negeri sedih untuk tidak bersedih lagi, ini dapat dibuktikan dengan foto-foto mereka yang tersenyum disamping sebuah semboyan klasik, “Pilih Saya”.
Tetapi, ada juga yang tidak senang bahkan muak dengan semua itu. Mereka mengatakan bahwa calon pejabat adalah manusia-manusia munafik yang mampu tersenyum ditengah-tengah kesedihan negeri sedih. Mereka berbuat baik bukan berdasarkan hati ataupu jiwa social yang ada dalam diri, tetapi agar terpilih menjadi pejabat negeri, mendapat gaji yang besar dengan fasilitas yang luar biasa mewah.
Terlepas dari itu semua, negeri sedih kini semakin sedih. Bencana terjadi dimana-mana
Hari ini, pesta demokrasi negeri sedih dilaksanakan. Hari ini pula hasilnya diumumkan. Para calon pejabat negeri sedih tak sabar menunggu hasil pilihan masyarakat. Terbayang dibenak para calon pejabat itu, gaji besar, rumah mewah lengkap dengan perlengkapan dan fasilitas kantor yang memanjakan. Begitu indah. Tidak heran jika banyak dari warga negeri miskin yang mencalonkan diri untuk menjadi pejabat negeri ini.
Tik… tik… tik…
Detik jam terus berlalu. Membawa perubahan. Pengumuman hasil pemilihan calon pejabat negeri. Hasilnya, tentulah ada yang dipilih dan ada yang tidak. Tetapi, semua calon pejabat itu tetap tersenyum, sebagaimana ketika pemilihan ini belum berlangsung. Seperti di stiker dan baliho-baliho besar yang berada di tepi-tepi jalan. Mereka tetap tersenyum
Masyarakat, dalam memahami senyum tersebut, terbagi dua. Masyarakat yang pertama mengartikan senyum bagi yang terpilih adalah senyum optimisme, senyum percaya pada diri sendiri untuk membangun negeri sedih ini agar tidak sedih lagi. Senyum kebahagiaan. Namun bagi mereka yang tidak terpilih, itu adalah kekuatan mental mereka sebagai calon pejabat. Mereka adalah orang-orang yang kuat, yang walaupun tidak terpilih, mereka tetap senyum, sebagaimana ketika bencana berlangsung, mereka tetap senyum saat masyarakat bersedih.
Masyarakat kedua, mengartikan senyum mereka yang dipilih adalah senyum menertawakan. Kenapa para masyarakan negeri sedih begitu bodoh mau memilih mereka seraya berniat untuk memperkaya diri dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Mereka juga tersenyum, karena mampu mengalahkan lawan-lawan politik mereka yang mungkin lebih baik dari mereka. Mereka tersenyum, modal yang telah dikeluarkan untuk merayu masyarakat dalam waktu dekat akan kembali dengan ketenaran, fasilitas, dan gaji tinggi.
Bagi mereka yang tidak terpilih, senyum mereka bagai senyuman orang gila yang stress. Modal yang begitu banyak sia-sia dan berujung pada kekalahan. Stress, karena begitu banyaknya warga negeri sedih yang memilih para bajingan tengik negeri sedih sebagai pejabat.

belajar mengemailkan pesan

Filed under: puisiku

tugas

Tue, March 31, 2009 4:07:46 PM
From:
Aprilia Kartika [Chat now]

Add to Contacts
To: aniarlina_kholid@yahoo.com
. bu aii puisi tea bleh ga pke puisi org lain ???< em><>

Fitahanugrah

Filed under: puisiku

Sang Pengemis

Dia terusir dari kapal nuh di sunyi pagi
sebatang kara masuki gerbang kota
membawa sebatang tongkat
dan buntal kain kusam di punggung
jalang matanya hantarkan murung kata
tak ada cahaya pagi buatnya karena embun
tak mandikan tubuh yang beberapa hari
berbau kotoran kelamin.lalu di perempatan
dia membuka tangan pada langit.menunggu khuldi
yang gelantungan di belukar surga jatuh
menimpa tangannya

terdengar keluh orangorang berwajah putih
akan kehadirannya. karena siang jadi bising
oleh doa datangkan khuldi di langit yang tertutup
dia tancapkan sebatang tongkat tua di aspal jalan
katanya, nanti si buruk rupa akan datang dan mencabut
tongkat ini dari tanah. lihat akan ada air muncrat dari bawah
nuju ke puncak langit. lalu kau sekalian akan tenggelam
dalam bencana.
lalu seorang berwajah putih berseloroh, ah kau pengemis,
tahu apa tentang masa silam seharusnya masa lalu tersimpan di surga
tapi kau menjualnya dengan kemurungan kata dan wajah burukmu
sepantasnya kau terusir dari surga dan rasakan panasnya jalanan.

di keramaian jalan, di akhir penantian, sebuah khuldi jatuh
ke tangan sang pengemis. dia memakannya buat mengisi perut
tapi orangorang berwajah putih mengutuknya, lalu mengusirnya
karena tubuh menjadi telanjang, berbau kotoran kelamin.
seisi kota ketakutan akan terbuka bencana yang lama disimpan matahari,
dan awan pun membuka pintu bagi ribuan tetes air yang turun deras

Dan kota tenggelam dalam bencana
sebagian orang berwajah putih hilang dalam tangkap murka banjir.
sebagian membangkai di pinggir perahu nuh
sedang sang pengemis kokoh menjadi pohon tua hingga ranting tumbuhi khuldi

bila banjir surut.seribu pengemis muncul menapaki pekat kering lumpur
bagai lalat keluar dari reruntuhan bangunan. mereka menuju pohonpohon tua di perempatan kota.berharap khuldi jatuh lalu keajaiban terjadi buat mereka namun ribuan polisi mengiring mereka ke kapal nuh.mereka akan berlayar di tempat tak terduga. tempat orangorang berwajah putih menanam khuldi

Bekasi,28032009

Qurota a’yun penulis lepas

Filed under: catatan pinggir

Sekejap Hadirmu

Sekejap hadirmu

Sempat mengisi episode hidupku

Dalam galau dan ragu

Tersimpan tanya untukmu

Kau kah yang akan jadi epilog dalam drama
cintaku?






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M